Desember, 2007 Lembaga Aliansi Demokrasi Anak Bangsa (ADAB) Meminta Polisi Mengusut Tuntas Kasus Penembakan.
Lembaga Aliansi Demokrasi Anak Bangsa (ADAB) meminta Kapolres Bireuen mengusut tuntas secara profesional kasus penembakan yang terjadi pada tanggal 29 Desember 2007, di Peusangan kabupaten bireuen dan beberapa kasus lainnya sepanjang tahun 2007, yang terjadi di kabupaten Bireuen.
Demikian yang dikatakan Zulfikar, Direktur Lembaga Aliansi Demokrasi Anak Bangsa
Zulfikar meminta Aparat kepolisian sebagai pihak yang mempunyai tugas utama dalam penegakan hukum di Aceh, untuk dapat mengungkap seluruh kekerasan yang terjadi selama ini di Aceh. Hal ini semata – mata untuk menjaga keberlangsungan perdamaian di Aceh,
ADAB Menilai berbagai kasus kekerasan di Aceh terutama di Bireuen tidak terlepas dari lambatnya respon Kepolisian dalam melakukan penyelidikan dan pengungkapan pelaku di balik semua peristiwa kekerasan yang terjadi di Aceh umumnya
“Kami mendesak sepenuhnya Aparat Kepolisian Bireun untuk mengusut segala kasus kekerasan yang terjadi karena ulah oknum Orang Tak Dikenal (OTK) karena ini dimainkan oleh OTK yang menjadi kambing hitam dalam kasus kekerasan. Saya mendukung penuh pernyataan Kapolres Bireun yang mengatakan akan mengusut kasus ini”, ungkapnya Senin (31/12)
Zulfikar mengatakan kekerasan yang terjadi di Bireuen dan di Aceh secara keseluruhan dalam konteks kekerasan yang dilakukan oleh OTK, telah membuat kecemasan bagi rakyat Aceh. Berbagai kasus kekerasan di Aceh terutama di Bireuen tidak terlepas dari lambatnya respon kepolisian dalam melakukan penyelidikan dan pengungkapan pelaku di balik semua peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh OTK terhadap masyarakat
ADAB Juga Meminta kepada semua pihak agar tetap menjaga perdamaian yang sedang berlangsung di Aceh. Bagi masyarakat agar tidak terpancing dengan berbagai isu isu yang dapat mengakibatkan terganggunya proses perdamaian di Aceh.(Abu Sidik)
posted by Nikoya 106 FM News Division Desember 31, 2007 18:10 | permalink | News
Muspida MPU Kota Banda Aceh Melarang Warga Merayakan Tahun Baru Dengan Berhura-hura.
Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) dan Pimpinan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Banda Aceh melarang warga merayakan tahun baru dengan berhura-hura. Penegasan itu disampaikan melalui seruan bersama yang disebarkan kepada warga Banda Aceh.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh, Ahmad mengatakan pada seruan tersebut Muspida melarang kegiatan menjual dan meniup terompet, menghidupkan musik hingar-bingar, mengadakan kegiatan hura-hura, balap-balapan, dan kegiatan lain yang bertentangan dengan syariat islam.
Ahmad menambahkan kegiatan itu sangat mengganggu ketenangan dan kenyamanan warga kota, selain itu juga mengganggu orang-orang yang sedang beribadah.
“Kita sudah membuat sebuah seruan menyangkut sambutan Tahun Baru 2008, yang kedua kita juga sudah membuat sebuah selebaran yang isinya pelarangan peniupan terompet, menjual terompet, melakukan kegiatan hura-hura dan balap-balapan dalam rangka menyambut tahun baru”, jelas Ahmad ketika dikonfirmasi oleh tim Redaksi nikoya FM Senin (31./12).
Ahmad meminta kepada warga yang ingin merayakan tahu baru supaya mencari lokasi yang jauh dari tempat-tempat ibadah. Akan tetapi harus tetap tertib dan tidak melanggar syariat islam. Pada tanggal 27 hingga 30 Desember lalu, Dinas Syariat Islam telah melakukan kegiatan terpadu untuk pengamanan malam tahun baru.
Petugas WH, POM, TNI/Polri, dan peperda akan mengamankan malam tahun baru. Tim pengamanan akan ditempatkan didepan mesjid raya Baiturrahman. Sedangkan tim lainnya yang lebih sedikit akan berpatroli disekitar Kota Banda Aceh.(Deni Zulfikar)
posted by Nikoya 106 FM News Division Desember 31, 2007 18:05 | permalink | News
Penembakan Terhadap Warga Peusangan Harus di Usut Tuntas.
Lembaga Aliansi Demokrasi Anak Bangsa (ADAB) menyatakan keprihatinan terhadap masih berlangsungnya berbagai kasus kekerasan yang terjadi di Aceh, apalagi rakyat Aceh telah mulai merasakan perdamaian yang sedang berlangsung.
Selain kasus penembakan yang terjadi terhadap Husaini warga Desa Paya Cut, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen pada hari sabtu 29 Desember 2007, Zulfikar, Direktur Lembaga Aliansi Demokrasi Anak Bangsa juga menjelaskan beberapa kasus lain sepeti Serangan bersenjata terhadap dua anggota Forum Komunikasi Anak Bangsa (FORKAB) yang ditembak oleh sekelompok orang bersenjata di Gampoeng Baro, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen pada 30 Januari 2007
Juga Penembakan yang dilakukan oleh kelompok Orang Tidak Dikenal dengan mengunakan senjata laras panjang terhadap, rumah milik Tgk Daud Umar di Desa Namploh Meunasah Papeun, Samalanga, Kabupaten Bireuen, yang terjadi pada tanggal 12 Juli 2007
Sedangkan Penembakan terhadap Husaini yang baru-baru ini terjadi juga dilakukan oleh Orang Tak Dikenal yang menyebabkan korban tewas ditempat kejadian. Desa Lueng Kuli, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen 29 Desember 2007
“Kita melihat beberapa kasus yang terjadi di Bireun itu tanpa pengusutan, nah ini artinya apa, tentunya akan semakin meresahkan masyarakat. Semestinya Polisi harus proaktif dalam pengungkapan kasus-kasus kekerasan baik yang terjadi di Bireun maupun di Aceh secara keseluruhannya. Masyarakat Bireun itu menunggu sebuah kepastian terhadap siapa pelakunya dan mengungkap semua dalang dibalik kasus kekerasan ini”, tegas Zulfikar ketika di wawancara oleh Reporter Nikoya FM Senin (31/12).
Zulfikar mengakui Kasus kekerasan yang terjadi terhadap Husaini telah menambah angka kekerasan yang pelakunya adalah Orang Tak Dikenal (OTK) yang terjadi di Kabupaten Bireuen. Berdasarkan hasil monitoring Lembaga ADAB, sepanjang tahun 2007, telah terjadi 10 peristiwa kekerasan di Bireuen, dimana kasus menonjol diantaranya adalah kasus penembakan secara misterius, dan 3 Kasus kekerasan.(Abu Sidik)
posted by Nikoya 106 FM News Division Desember 31, 2007 18:00 | permalink | News
Tiga Tahun Pasca Tsunami Warga Masih Menempati Barak-barak Penggungsi.
Tiga tahun sudah tsunami berlalu. Meski demikian hingga kini masih banyak warga korban tsunami di Aceh belum memiliki rumah layak huni.
Padahal seiring dengan proses rekonstruksi yang hampir mencapai batas waktu Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi di tahun 2009, sudah seharusnya korban tsunami memiliki rumah yang layak tinggal, rumah yang memberikan keteduhan bagi keluarga, tempat dimana mereka mendapatkan kenyamanan untuk menjalani kehidupan.
Berikut penuturan beberapa warga korban tsunami yang masih menempati barak pengusian, pasca tiga tahun gelombang raksasa yang melululahtakkan Aceh pada 26 desember 2004 silam
Dari hasil amatan Nikoya di kabupaten Pidie, warga korban tsunami yang masih menempati barak pengungsi Kenire Kota Sigli, menurut catatan, terdapat warga kelurahan Kuala Pidie sebanyak 27 Kepala Keluarga, kelurahan Benteng 10 KK, Kelurah Blok bengkel 6 KK, dan kelurahan keramat luar berjumlah 6 KK, semuanya merupakan warga korban tsunami kecamatan kota Sigli yang masih menempati barak pengusi Kenire
Surya Darma selaku kordinator pengungsi setempat mengatakan, mereka yang masih menempati barak itu masih menantikan rumah yang di janjkan oleh BRR. Ia mengaku hingga saat ini belum jelas kemana mereka akan di pindahkan.
“Yang paling mendasar adalah tidak adanya kejelasan terhadap realisasi pembangunan rumah, setiap kali mereka ambil data dari kami seperti Fotocopy KTP dan KK, tapi hingga sekarang usia BRR tidak lama lagi kami tidak tahu dimana relokasi yang akan diberikan kepada kami, kapan mulai dibangun dan sebagainya, itu kami sama sekali tidak tahu. Sementara NGO yang lain tidak ada satupun yang masuk kebarak kita”, ungkapnya.
Saat di tanya batas waktu mereka menempati barak tersebut, surya mengatakan, tidak tahu menahu, namun yang ia tahu hanyalah masa kerja BRR akan berakhir di tahun 2009
Lebih lanjut Surya menjelaskan, yang masih menempati barak tersebut merupakan kategori penyewa namun kebijakan dari BRR akhirnya mereka mendapat bantuan sementara.
“Sementara gakda karena kebetulan lokasi yang kami tinggal sekarang ini milik Pemda, jadi kalau lokasi kami tidak masalah, kecuali mungkin Barak lainnya seperti Shelter pinggir kali termasuk barak Blang Paseh. Itu mereka tanah sewa. Kemungkinan Pemda sendiri tidak berani menjamin lebih dari bulan 12 ini”, jelasnya.
Lain halnya Ibu Ira Wahyu, korban tsunami asal Banda Aceh yang masih menempati barak Lhong Raya Aceh Besar. Saat di temui redaksi Nikoya dalam rangka memperingati pasca 3 tahun tsunami mengatakan, tiga tahun menempati barak adalah hal yang sangat membosankan, dengan sarana yang tidak memadai, di tambah lagi dengan kondisi barak yang tidak layak huni.
“Jadi kami rumah yang sangat menjadi prioritas saat ini, jadi mungkin bisa diusahakan bagaimana caranya. Karena sudah sangat bosan selama 3 tahun tinggal di Barak, mana air kadang-kadang hidup kadang-kadang gak. Bantuan satupun tidak ada lagi kayak dulu, karena sebelumnya pun kami tinggal di tenda”, keluhnya.
Ira dan warga lainnya yang menempati barak Lhong Raya sangat mengharapkan kepada pihak yang sedang menjalankan rehap rekon di Aceh, untuk lebih serius memperhatikan nasib mereka.
Sementara itu Ibu Ida warga pekan Bada yang masih, menempati shelter Lhong Raya juga mengaku, puluhan Kepala Keluarga yang menempati shelter tersebut belum mempunyai rumah. Berikut penuturannya
“Itu jelaslah bagi kami, karena sudah 3 tahun kami masih disini (barak) sedang orang lain semuanya sudah pindah kerumah masing-masing. Jadi bapak bisa lihat sendiri bagaimana keadaan kami seperti ini, mana air dan WC entah seperti apa keadaannya sekarang, jadi apapun yang kita butuhkan sudah tidak layak lagi untuk dipakai. Mengenai air misalnya, kami setiap hari harus membelinya seharga Rp.15.000,-. Kalau tidak dibeli tidak ada air, tapi kalau tidak ada uang pun jadi masalah juga kan? Bantuan rumah ada, karena keputusan dari BRR kemarin kami tidak tahu selanjutnya kemana kami akan dibawa, kemungkinan setelah tinggal di Barak ini kami akan dipindahkan ke Barak Bakoi. Harapan kami ya di perjelaslah kami yang masih tinggal dibarak ini secepatnya lah dipindahkan dan tidak lagi tinggal disini karena barak pun sudah tidak layak huni lagi, apalagi kalau ada angin kami semua ketakutan”, ungkap Ida dengan nada sedih.
Hingga saat ini korban tsunami di Aceh umumnya masih banyak yang menempati barak, padahal kita semu tahu bencana gempa dan sunami sudah tiga tahun berlalu. Namun fakta di lapangan menunjukan, masih lemahnya Badan Rehap Rekon dalam menyantuni korban tsunami, yang hingga saat ini masih belum mempunyai tempat yang layak huni.
Mungkin sudah habis kata-kata yang ingin disampaikan kepada mereka yang selama ini dibayar untuk memperhatikan keadaan korban tsunami. Kemana mereka harus mengadu?.(Abu Sidik)
posted by Nikoya 106 FM News Division Desember 27, 2007 18:00 | permalink | News
Yayasan Lembaga Hukum Indonesia Mengadakan Seminar Nasional Yang Bertajuk “Mengevaluasi Transisi Politik Aceh”.
Yayasan Lembaga Hukum Indonesia bekerjasama dengan persaudaraan Aceh mengadakan Seminar Nasional yang bertajuk “mengevaluasi Transisi Politik Aceh.
Dalam acara ini itu menghadirkan sejumlah pembicara diantaranya Wakil Gubernur Muhammad Nazar, indra J. Piliang (peneliti dari CSIS bidang perubahan Sosial Politik), Kausar Muhammad Yus (Sekjend Persaudaraan Aceh) dan tengku Ibrahim Syamsudin selaku Juru Bicara Komite peralihan aceh.
Adapun tujuan dari Seminar ini adalah melakukan evaluasi terhadap perkembangan Demokrasi, HAM, kebijakan ekonomi Makro dan Mikro serta aspek Politis lainnya yang sedang berlangsung di Aceh.
Selain itu diharapkan Hasil dari seminar ini dapat memberikan catatan atas proses transisi politik Aceh, dan mampu memberikan alternative solusi kepada kebijakan yang kurang tepat atas proses transisi Aceh.
Seminar Politik tentang perpolitikan Aceh ini juga diharapkan sebagai ajang silaturrahmi antar Organisasi dan Individu yang selama ini konsen terhadap politik Aceh, mulai dari level Kabupaten sampai dengan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Disebutkan dengan banyaknya seminar yang seminar yang sering dilakukan di Aceh maka semakin kuat penyangga perdamaian sebagai pilot project untuk membangun tatanan politik baru di wilayah ini.(Abu Sidik)
posted by Nikoya 106 FM News Division Desember 17, 2007 18:10 | permalink | News
|