Nopember, 2007 BRR Telah Menanam Enam Belas Juta Batang Mangrove Di Daerah Pantai Timur Dan Pantai Barat Aceh.
Direktur pengembangan ekonomi kehutanan BRR, Riki Efenzora mengatakan, dari tahun 2006 yang ditargetkan, BRR telah menanam lebih kurang enam belas juta batang tanaman mangrove, di daerah antai timur dan pantai barat.
Kemudian berdasarkan laporan dua bulan yang lalu, tingkat keberhasilan tanaman manggove sekitar lima puluh persen di pantai barat, dan tujuh delapan persen di pantai timur.
Mengenai ribuan batang manggove yang mati setelah di tanam pihak BRR, Riki mengaku, BRR mempunyai kewajiban di masa pemeliharaan tanaman mangrove tersebut selama tahun 2006 hingga 2007, dan melakukan tanaman sulaman manggove yang sudah mati, Dimana selama kurun waktu dua tahun itu, tingkat keberhasilan menjadi lebih baik
Tidak kurang 16 juta batang di tahun 2006 sudah kita tanam mangrove dipantai timur dan pantai barat, kemudian sampai dengan laporan dua bulan yang lalu posisi keberhasilan tanam itu adalah 50 persen di pantai barat dan 78 persen di pantai timur. Kita mempunyai kewajiban termasuk pemeliharaan selama dua tahun. Jadi selama 2006 hingga 2007 ini masih kita pelihara, mudah-mudahan selama dua tahun ini tingkat keberhasilannya menjadi lebih baik, karena selama masa pemeliharaan itu kita melakukan penanaman tanaman sulaman, jelasnya kepada Redaksi Rabu (31/10).
Riki juga menambahkan, di tahun 2007 ini, ada satu NGO KOIKA asal korea yang memiliki kontibusi yang besar. NGO korea tersebut telah menanam mangrove di pantai timur mulai dari Pidie hingga Bireun, dan Aceh Utara, sekitar 550 hektar lahan maggrove.
Tapi 2007 ini ada satu pihak yang berkontribusi besar yaitu KOIKA dari Korea, mereka di tahun 2007 melakukan penanaman di pantai timur, mulai dari Pidie, Bireun kemudian Aceh Utara itu sekitar 150 hektar, kita berharap ini menjadi salah satu contoh terbaik karena skalanya cukup besar. Hanya saja setelah hampir bulan ke-5 setelah kita tanam persoalan lainnya adalah dikarenakan ternak masyarakat, katanya.
Riki juga mengatakan laporan terakhir yang di terima BRR, di mana sekitar tiga puluh persen tanaman maggrove yang berada di pinggiran tambak di kabupaten Pidie, di makan ternak. Riki mengaku hal ini juga menjadi persoalan yang mendasar, karena banyak batang manggrove yang sudah tanam di perairan pantai Aceh, yang di makan ternak masyarakat.(Abu Sidik)
posted by Nikoya 106 FM News Division Nopember 01, 2007 18:05 | permalink | News Pengelola Pasar Grosir Bireun Yang Didanai BRR Akan Diserahkan Kepada Pemerintahan Daerah Setempat.
Deputi ekonomi BRR-NAD-Nias, Saed Faisal mengatakan, Pengelola pasar Grosir Bireun yang didanai BRR, akan diserahkan kapada Pemerintahan daerah setempat. Namun ada beberapa hal yang menjadi pilihan, Said faisal mengakui, tim dari BRR Dan pemerintah daerah akan mengevaluasi opsi apa yang paling tepat untuk memaksimalkan pasar yang cukup strategis, untuk masyarakat Aceh.
Said mengungkapkan, penyelesaian pembangunan dan penyerahan pasar grosir di Bireun tersebut, di harapkan selesai pada tahun ini, sehingga operasional pasar tersebut, tergantung kesiapan pembangunannya.
Mekanismenya kita membangun, namun pengelolaannya kita akan menyerahkannya kepada Pemerintahan Daerah, kemudian Pemerintah Daerah akan melihat mana yang paling efektif untuk pengelolaan tersebut, apakah bekerjasama dengan pihak swasta, tapi nantinya tim dari BRR dengan Pemerintah mengevaluasi opsi apa untuk memaksimalkan strategi apa yang paling tepat untuk masyarakat, ungkap Said Rabu (31/10).
Said Faisal juga mengaku, jika pembangunan pasar ini membutuhkan waktu yang lama. karenanya pasar grosir Bireun itu, baru di operasikan pada tahun mendatang, tapi BRR mengharapkan pembagunan pasar itu, tuntas di kerjakan pada akhir tahun ini. (Windy Faghta)
posted by Nikoya 106 FM News Division Nopember 01, 2007 18:00 | permalink | NewsOktober, 2007 Tiga Tahun Pasca Tsunami Sekolah Dasar (SD) 45 Lamdingin Masih Menempati Rumah Sekolah Darurat.
Seratus delapan puluh murid Sekolah Dasar (SD) 45 Lamdingin Banda Aceh, hingga saat ini masih menempati rumah sekolah darurat. sementara gedung sekolah yang sedang di kerjakan oleh kontraktor yang di danai oleh pihak USAID, hingga saat ini belum sepenuhnya rampung.
Kepala sekolah Safrudin AR mengatakan, gedung sekolah baru tesebut, sudah lama di kerjakan, namun hingga saat ini belum bisa di tempati, padahal kebutuhan gedung sekolah yang baru, sudah sangat mendesak, mengingat kondisi Banda Aceh saat musim hujan, yang sering digenangi air selama sepekan ini.
Harapan kami tentunya cepatlah dipersiap, karena coba anda lihat sendiri kantor kami yang sama sekali tidak berbeda dengan gudang. Begitu hujan turun, air naik, sementara barang bertimbunan, ruang belajar bagi anak-anak sempit, anak murid bertambah terus, keluhnya kepada Redaksi Selasa (30/10).
Safrudin mengatakan, bulan November tahun 2007 ini, gerdung sekolah yang baru tersebut, mau di resmikan. Sementara lantai dan fasilitas belajar lainnya belum tersedia. Kepala sekolah berharap, agar semua bisa di rampungkan secepat mungkin, sehingga proses belajar mengajar bisa berjalan dengan baik.
Yang kami harapkan seperti misalnya lantainya itu keramik, sampai sekarang itu belum ada bahannya. Padahal sekolah ini mau diresmikan oleh pihak USAID bulan sebelas ini, nah ternyata disini pemborongnya belum nampak, pekerjanya pun tidak tampak, bahannya pun belum ada, ungkapnya
Sementara dari hasil amatan Nikoya FM di gedung sekolah yang baru tersebut, terlihat seperti lantai misalnya, belum di pasang keramik dan plafon, seperti yang di rencanakan sebelumnya (Abu Sidik)
posted by Nikoya 106 FM News Division Oktober 30, 2007 18:05 | permalink | News Gerakan Anti Korupsi Aceh Meragukan Rencana Pengurangan Tenaga Karyawan Di Tubuh BRR NAD-Nias.
Gerakan anti korupsi aceh meragukan statemen Kuntoro soal rencana pengurangan tenaga karyawan di tubuh BRR NAD-Nias.
Hal tersebut di nyatakan oleh Askhalani Manager Program Monitroring Rehabilitasi dan Rekonstruksi GERAK.
Menurut Askhalani, pernyataan dari kepala Bapel BRR NAD-Nias yang mengatakan bahwa Tahun 2008, Pegawai BRR Dipangkas adalah sebuah peryataan yang sangat bertolak belakang dan kontradiktif dengan hasil verifikasi GERAK dilapangan.
Beberapa catatan temuan hasil investigasi lapangan yang dilakukan oleh GeRAK Aceh diantaranya:
Karyawan BRR NAD-Nias yang hingga saat ini berjumlah 1.200 orang lebih adalah hal yang sangat mustahil, sebab berdasarkan data yang diperoleh jumlah karyawan BRR NAD-Nias, hingga akhir periode pertengahan oktober 2007, berjumlah 1.724 orang, angka tersebut adalah angka yang belum final, terlebih hingga periode tersebut BRR NAD-Nias masih melakukan rekruitmen karyawan, secara diam-diam.
Ini cukup membingungkan, karena disatu pihak Kuntoro mengatakan tahun 2008 akan terjadi pengurangan, tapi dilain pihak gerak menemukan hal yang sangat kontradiktif karena efesiensi terhadap anggaran itu kian hari kian melonjak terutama untuk memenuhi pembayaran gaji, sewa mobil, sewa rumah, biaya komunikasi dan lain-lain, jelas Askhal kepada Redaksi Selasa (30/10).
GERAK juga menemukan bahwa penetapan struktur organisasi (Organigram) kedeputian perencanaan & keuangan, serta kedeputian ekonomi yang baru saja disahkan oleh kepala bapel BRR NAD-Nias, sangat gemuk dan penyelewengan lainnya
Gerak menilai bilamana ingin mengurangi jumlah karyawan itu tidak perlu menunggu sampai dengan tahun 2008, di akhir tahun 2007 ini BRR harus berani melakukan pengurangan jumlah pekerja. Karena banyak pegawai yang bekerja di BRR Nad-Nias tidak melakukan kerja apa-apa dan hanya mengambil gaji setiap bulan, ungkapnya.
Berdasarkan dari hal tersebut, GeRAK Aceh merasa sangat heran tentang pernyataan yang dilontarkan oleh kepala Bapel BRR NAD-Nias, mengenai rencana pengurangan dilakukan pada tahun 2008, seharusnya jika memang banyak pegawai dan personel yang tidak jelas, kenapa tidak dari sekarang dilakukan pengurangan personil, dan kenapa harus menunggu tahun 2008. Ini menunjukan bahwa BRR NAD-Nias, belum memiliki mekanisme rekruitmen & mekanisme evaluasi kinerja, terhadap staf berdasarkan kompotensi & kebutuhan rehabilitasi & rekontruksi, serta upaya efesiensi terhadap pengelolaan anggaran.(Windy Faghta).
posted by Nikoya 106 FM News Division Oktober 30, 2007 18:00 | permalink | News Pembangunan Rumah Untuk Warga Desa Tibang Tidak Sesuai Dengan Dana Yang Disalurkan.
Pembangunan Rumah untuk warga desa Tibang Banda Aceh oleh NGO UN Habitat di nilai tidak sesuai dengan dana yang disalurkan untuk satu ini rumah,
Pasalnya dana yang di salurkan untuk satu unit rumah sebesar enam puluh delapan juta rupiah, untuk ukuran rumah lima kali tujuh, lengkap dengan keramik dan pelafon, namun kejadian di lapangan, rumah tersebut hanya berdinding tripleks. warga yang menerima rumah bantuan tersebut, harus mengeluarkan biaya sendiri untuk membangun kembali, seperti pelafon keramik dan kamar mandi, yang tidak layak di pergunakan. Demikian yang di katakan Razali, ketua barak Penduduk Tibang di Simpang Mesra, yang hingga saat ini masih menempati, barak tersebut.
Bangunan rumah itu bukan gak layak untuk ditempati, tapi layak untuk ditempati, Cuma bila kita lihat dari segi dana yang disalurkan untuk pembangunan rumah oleh UN Habitat saya rasa bukan begitu rumah yang layak dibangun. Dananya untuk setiap rumah 68 juta rupiah dengan tipe 6x7 dengan tanpa keramik, tanpa plafon, kamar dengan tripleks, dapur tidak ada dan kamar mandi pun tidak layak, ungkapnya kepada Redaksi Nikoya FM Senin (29/10).
Razali mengaku dia dan warga yang lainnya telah berkordinasi dengan pihak NGO tentang kondisi rumah, namun hingga saat ini belum ada tangapan apapun dari mereka.
Saya sudah konfirmasikan hal ini kepada pihak UN-Habitat, tetapi hingga saat ini tidak ada respon apapun dari mereka, karena itu saya tidak menunggu lama melihat hal ini, dan saya yakin bahwa janji yang pernah di ucapkan kepada kami itu tidak benar, katanya.
Razali menambahkan, yang menjadi pembicaraan di kalangan warga yang mendapat rumah tersebut adalah, kondisi rumah yang tidak sesuai dengan dana yang di peruntukan. Razali menjelaskan dana enam puluh delapan juta tersebut, kalau di bangun rumah ukuran lima kali tujuh, maka hasilnya jauh lebih baik di bandingkan rumah yang sudah di bangun oleh NGO sekarang. Razali mengakui dirinya sudah mengeluarkan biaya sendiri lebih sepuluh juta rupiah untuk merehap kembali rumah tersebut
Kalau dana yang sebesar itu yang diperuntunkan untuk sebuah rumah, bukan seperti itu hasil rumah yang dibangun. Karena untuk menutupi kekurangan yang ada pada rumah itu biaya plafon itu menggunakan biaya saya pribadi, disamping itu juga pintunya yang tidak layak dipakai, juga kamar. Bagi saya secara pribadi bukan tidak pernah mau menerima rumah itu, saya menerimanya, hanya yang membuat saya bertanya kenapa uang sebanyak 68 juta rupiah itu rumah yang dibangun seperti ini, katanya mempertanyakan.
Razali menambahkan, pembangunan rumah untuk korban tsunami Desa Tibang oleh UN-Habitat, anggaran tahun 2005 dinilai pembangunannya jauh lebih baik dari Pada anggaran tahun 2006 dan 2007 ini. Razali mensinyalir ada pihak tertentu yang bermain dengan dana bantuan rumah warga desa Tibang tersebut.(Abu Sidik)
posted by Nikoya 106 FM News Division Oktober 29, 2007 18:15 | permalink | News