September, 2007 Polres Langsa Kembali Panggil 8 Staf LBH Banda Aceh.
POLRES Kota Langsa kembali mengirimkan surat panggilan terhadap 8 orang Pekerja Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh tentang kasus PT. Bumi Flora untuk dimintai keterangannya sebagai Tersangka dalam perkara tindak pidana menyiarkan, atau menempelkan tulisan yang isinya menghasut di muka umum.
Kapolres Langsa AKBP Syahruddin, saat di hubungi via telpon mengatakan, alasan dilakukan pemanggilan ini adalah untuk dimintai keterangan tambahan, karena berkasnya belum lengkap dinilai oleh jaksa.
Syahruddin mengaku kedelapan tersangka tesebut haya di mita tanda tangan saja guna kepentingan kelengkapan BAP (Berita Acara Pemeriksaan) dalam perkara Tindak Pidana.
“Ini penilaian kita dinilai oleh Jaksa, saya rasa pemanggilan itu hanya untuk tanda tangan saja. Mengenai kasus Bumi Flora itu bukan wilayah Hukum Polres Langsa, itu Aceh Timur, karenanya silahkan saudara tanyakan ke Polres Aceh Timur, sudah lapor belum masyarakat setempatnya”, kata Kapolres kepada Redaksi Kamis (20/09)
Juru bicara Aliansi Peduli Korban Bumi Flora, Asiah Uzia, sangat menyesalkan pemanggilan kembali ke-8 staf LBH tersebut, dirinya menanggapi bahwa pemanggilan ini terkesan dipaksakan oleh pihak Kepolisian POLRES Langsa.
“Kami dari APKBF (Aliansi Peduli Bumi Flora) sangat menyesalkan pemanggilan kembali delapan Staff LBH tersebut, dan kami menganggap pemanggilan ini terkesan dipaksakan, karena pihak Kepolisian dalam hal ini Polres Langsa sampai sekarang tidak mampu menemukan unsur pidana dalam pasal 60 dan 161. kita tidak tahu apa alasan yang sebenarnya pemanggilan kembali ini dilakukan oleh pihak Polres Langsa kepada Staff LBH. Polres Langsa sudah menyerahkan berkasnya ini ke Kejaksaan, tetapi Kejaksaan Langsa menyerahkan kembali berkasnya ini karena bukti-bukti itu tidak cukup kuat”, jelas Asiah.
Sebelumnya PT. Bumi Flora telah menunjukkan itikad baiknya dengan mencabut pengaduannya ke POLRES Langsa sehingga Pasal 335 (Tindak Pidana Perbuatan Tidak Menyenangkan) yang merupakan delik aduan telah dicabut, namun oleh pihak POLRES Langsa masih terus menindak lanjuti perkara tersebut.
Selain itu, Asiah menilai, upaya kriminalisasi yang dilakukan oleh POLRES Langsa bisa menghambat upaya advokasi yang dilakukan oleh LBH Banda Aceh di beberapa wilayah di Aceh dalam membela kepentingan masyarakat yang tertindas dan termajinalkan terkait dengan penyelesaian persoalan pertanahan struktural yang saat ini banyak terjadi di Aceh.
Apalagi sebagian dari 8 Orang yang diperkarakan tersebut adalah tokoh-tokoh kunci atau penting di LBH Banda Aceh, maka dapat dipastikan hal ini akan memperlemah laju advokasi yang dilakukan LBH Banda Aceh terhadap masyarakat.(Abu Sidik)
posted by Nikoya 106 FM News Division September 21, 2007 18:05 | permalink | News
Pemilik Senjata Ilegal Harus Di Tindak Secara Tegas Tanpa Diskriminasi.
KontraS Aceh menyatakan dukungan penuh atas maklumat penarikan senjata ilegal yang masih beredar di masyarakat Aceh. Polisi harus menindak tegas pemilik senjata dengan cara-cara yang manusiawi, tidak diskriminatif dan mengedepankan asas praduga tak bersalah.
Perwakilan KontraS Aceh, Asiah mengungkapkan, KontraS Aceh juga mengajak semua pihak untuk mendukung maklumat tersebut mengingat keberadaan senjata ilegal di Aceh memang sudah sangat meresahkan masyarakat, hal tersebut juga tidak menutup kemungkinan berpotensi terhadap rusaknya perdamaian Aceh yang telah berlangsung selama 2 tahun.
Asiah menjelaskan, meskipun polisi telah mendapatkan legalitas untuk menindak pemilik senjata ilegal, namun kontras ingin mengingatkan polisi dalam menjalankan tugasnya agar senantiasa berpegang pada kode etik kepolisian.
“Ini adalah sebuah himbauan yang cukup bagus, sebuah maklumat yang cukup baik yang harus didukung oleh semua pihak. Karena sebagaimana kita ketahui keberadaan senjata illegal di Aceh itu masih beredar dimasyarakat, yang dibuktikan dengan meningkatnya aksi kriminalitas di Aceh. Dan ini tentunya sangat meresahkan masyarakat Aceh sendiri pasca damai, jadi dengan adanya maklumat ini, masyarakat yang memiliki senjata illegal itu, dapat menyerahkanm senjatanya ke pihak polisi,” ungkap Asiah kepada redaksi Nikoya FM Kamis (20/09).
Dalam melaksanakan tugas ini polisi akan berhadapan dengan warga negara yang harus diperlakukan tanpa diskriminasi. Bahkan kalau tertangkappun polisi wajib memberikan perlindungan kepada orang-orang yang dicabut kemerdekaannya.(Abu Sidik)
posted by Nikoya 106 FM News Division September 21, 2007 18:00 | permalink | News
Swiss Contact Mendukung Usaha Pemula Masyarakat NAD.
Swiss Contact bekerjasama dengan Chevron, mendukung usaha pemula yang mendorong berdirinya 200 lebih usaha kecil menegah baru, dan menciptakan lapangan kerja baru untuk 1000 orang lebih di NAD.
Menurut Thomas Meire, Project Manager Swiss Contact, di NAD pasca tsunami banyak warga yang kehilangan pekerjaan atau mata pencarian, dan diantara warga tersebut ada yang berkeinginan memulai usaha atau telah menjalankan usaha.
Namun menghadapi keterbatasan modal, untuk mengatasi permasalahan kesulitan modal dan juga mengurangi penggangguran di Aceh.
Swiss Contact bekerja sama dengan Chevron mengembangkan suatu mekanisme keuangan untuk masyarakat Aceh yang akan memulai usaha.
“Kita focus pada pemulihan UKM, di Aceh dan Nias yang mengalami kerusakan akibat tsunami dan gempa. Kami sudah memulihkan ratusan UKM, dan untuk hari ini kami mencoba memunculkan program berwirausaha, dimana selama ini ada usaha yang tidak eksis, dan sekarang kami membuat program baru untuk pemula usaha. Disitu ada dua kelompok sasaran, yang pertama adalah alumni dari Politeknik Caltek Riau, yang mengundang sekitar 400-an orang dari Aceh”, kata Thomas Rabu (19/09).
Thomas menambahkan prioritas pertama dari penerima manfaat bantuan modal tersebut adala 339 lulusan peserta pelatihan jangka pendek yang di adakan Chevron di Politeknik Kaltek Riau.
Dan lulusan 4700 lebih peserta pelatihan yang di selenggarakan Swiss Contact Melalui Mobile Training Unit.
posted by Nikoya 106 FM News Division September 20, 2007 18:05 | permalink | News
Bahan Bakar Gas Di Banda Aceh Normal.
Krisis bahan bahan bakar Gas di kabupaten Pidie dan Pidie Jaya, belum teratasi hingga saat ini. Sementara krisis bahan bakar Gas (Elpiji), di daerah Meulaboh Aceh Barat, sudah terjadi sepekan terakhir ini, seperti di beritakan oleh sebuah surat kabar di Aceh hari ini. Sementara pasokan elpiji di wilayah kota Banda Aceh, sudah mulai lancar.
Hupmas Pertamina Banda Aceh, Sayit Farid mengatakan, 2600 lebih LPG ukuran 12 kilogram, sudah alokasikan keberapa daerah, seperti Kabupaten Pidie, Aceh Besar, Aceh Barat dan Abdya.
Sementara seribu lima ratus lebih tabung elpiji, di alokasikan untuk wilayah Banda Aceh, untuk Kabupaten Pidie, 250 tabung elpiji, sudah dikirim oleh Pertamina, untuk mengatasi permintaan warga disana. Sementara untuk Aceh Barat, sekitar lima ratus tabung sudah dialokasikan.
“Kita mencoba mengembalikan posisi semula sesuai dengan permintaan masyarakat, karena stoknya akan kita tambahkan. Seperti hari ini tanggal 19 September, itu ada 250 tabung yang kita kirim, kemudian untuk Aceh Barat itu hari Senin sudah kita kirim 500 tabung. Juga demikian untuk wilayah Banda Aceh dan Langsa”, jelas Farid kepada Redaksi Nikoya FM Rabu (19/09).
Sayid Farid menambahkan, untuk saat ini persediaan elpiji di Banda Aceh, makin hari kian bertambah. Sehingga persediaannya, bisa bertahan hingga lebaran nanti.
Dirinya mengharapkan, dengan adanya pasokan tersebut, dapat membantu menstabilkan permintan masyarakat, yang terjadi sejak memasuki awal Ramadhan.
posted by Nikoya 106 FM News Division September 20, 2007 18:00 | permalink | News
Selama Bulan Ramadhan Harga Beras di Kabupaten Pidie Tidak Stabil.
Selama bulan Ramadhan ini, harga beras di Kabupaten Pidie tidak stabil. padahal di daerah tersebut, sedang memasuki panen padi musiman, di beberapa kecamatan. Harga beras di Pasaran Pidie, bervariasi, berkisar antara 8.000 dan 9.000 rupiah, per bambu. Hal itu di sebabkan, masih banyaknya beras luar Aceh, yang masih banyak di pasaran.
Demikian yang di katakan Ismail, salah seorang pedagang beras di Kabupaten Pidie.
“Untuk sementara ini belum ada kenaikan beras, harga beras masih stabil. Ini karena banyak beras yang masuk dari luar kemari”, ungkapnya Senin (17/09).
Lebih lanjut Ismail mengaku, harga beras di Kabupaten Pidie, sangat sulit untuk bisa di stabilkan. mengingat masih banyaknya beras luar Aceh, yang masih bersaing harga dengan beras petani di Kabupaten tersebut.
Namun Ismail mengatakan, untuk kedepan harga beras di perkirakan makin terus melonjak, karena panen di Pidie saat ini, haya di beberapa tempat saja. (Abu Sidik)
posted by Nikoya 106 FM News Division September 19, 2007 18:25 | permalink | News
|