Agustus, 2007
Dinas Kesehatan Provinsi Mengadakan Respon Terhadap Keadaan Darurat.


Dinas Kesehatan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam mengadakan Workshop yang bertema ”Membentuk Jaringan Dalam Seminar Respon Terhadap Keadaan Darurat. Kegiatan ini diperuntukan kepada Dokter, Perawat, dan Staf di Dinas Kesehatan, Puskesmas, PEMDA, dan PMI dari 6 daerah di kawasan Barat Selatan atau disingkat BASEL 118.
 
Menurut Penanggung Jawab Workshop, Hendro Wartatmo mengatakan penanganan dalam keadaan darurat harus semua pihak terlibat didalamnya, baik Pemerintah maupun masyarakat sehingga adanya jaringan dari semua kalangan. Hal ini perlu dilakukan sehingga setiap musibah yang dialami suatu daerah, misalnya daerah terisolir dapat ditangani dengan cepat.
 
“Memang masalah penanggulangan tidak bisa dikerjakan oleh satu golongan ya, karena itu mesti harus adanya kerjasama. Kalau garis besarnya Penanggulangan Bencana itu merupakan tanggung jawab Masyarakat dan Pemerintah. Dan tentunya penanggulangan bencana itu harus ada kerjasama lintas sektoral. Baik kemanan, kesehatan dan lainnya”, jelas Hendro kepada Redaksi Nikoya FM Jumat (03/08).
 
Hendro mengatakan untuk di Indonesia dan khususnya di Aceh penanganan setiap bencana selalu lamban, baik dari Tim Medis maupun Pendanaan, sehingga sewaktu baru ada bencana di suatu daerah, ketika itu dananya dikeluarkan.
 
“Anggaran Bencana hanya boleh dicairkan apabila sudah terjadi bencana, ini yang menjadi peraturan pemerintah selama ini. Dan tentunya ini yang menimbulkan kesulitan yang luar biasa, karena kalau untuk mencari dana itu luar biasa susahnya. Karena anggaran bencana hanya boleh dicairkan apabila terjadinya bencana. Sehingga ada kesan kalau anggaran bencana hangus. Jadi ada pengertian bahwa penanggulangan bencana itu hanya dilakukan setelah terjadinya bencana, padahal semestinya sebelum terjadi bencana ada usaha-usaha yang dilakukan”, ungkapnya.
 
Kegiatan ini merupakan kerjasama dengan Universitas Gajah Mada (UGM) dan World Vision Australia yang dilaksanakan dari tanggal 3 sampai dengan 5 Agustus 2007.(Deny Z)


posted by Nikoya 106 FM News Division Agustus 03, 2007 18:25 | permalink | News

Pema UNSYIAH Meminta Luar Negeri Tidak Mencampuri Permasalahan Hukum Di Aceh.


Pemerintahan Mahasiswa Universitas Syiah Kuala, Usyiah Banda Aceh menghimbau kepada Politisi Luar Negeri untuk tidak ikut campur terhadap permasalahan Hukum di Aceh. Demikian dikatakan oleh Presiden PEMA Unsyiah, Affif Herman di Banda Aceh.
 
Hal itu dikatakan Affif menanggapi pernyataan Politisi Amerika Serikat yang mengatakan kehadiran Partai Lokal di Aceh hendaknya jangan cepat dicurigai akan mengarah keseperatis. Affif Herman menambahkan pernyataan tentang Partai GAM itu sudah menghina kedaulatan Bangsa Indonesia, karena mencoba mempengaruhi kebijakan Hukum di NKRI.
 
“Kita menghimbau kepada seluruh politisi luar negeri, itu kalau masalah yang terkait dengan Politik dalam Negeri jangan ikut campur. Itu urusan dalam negeri kita, apalagi masalah Parlok kemarin. Janganlah membuat isu baru, membuat Jakarta dan Aceh kembali salah paham. Biar Departemen Hukum dan HAM yang menilainya. Kita jangan berkomentar lagilah!”, tegas Affif kepada Redaksi Nikoya Jumat (03/08).
 
Affif mengharapkan kepada Pemerintah Aceh untuk tegas dalam masalah ini, supaya pihak asing tidak terlalu mengintervensi, karena ini masalah Pemerintah Aceh dengan Pemerintah Pusat. 
 
“Ini urusan Pemerintah kita, jadi orang asing gak usah coba-coba masuklah. Kita melihat sendiri bagaimana analisa mereka yang bagus tentang kondisi di Timur Tengah, tapi kenyataannya sama sekali tidak memberikan solusi”, ungkapnya.
 
Affif Herman mengatakan pernyataan itu mengandung provokatif karena mencoba mengadu domba antara rakyat Aceh dan Jakarta. Hal ini terbukti, banyak sudah ikut campur tangan Amerika Serikat dalam menyelesaikan konflik di beberapa Negara, namun tidak dapat nmenyelesaikan masalah, bahkan menimbulkan masalah baru.(Deny Z)


posted by Nikoya 106 FM News Division Agustus 03, 2007 18:15 | permalink | News

Partai Local GAM Akan Mensosialisasikan Arah Dan Tujuan.


Partai lokal GAM akan mensosialisasikan kemana arah dan tujuan partai tersebut  kepada seluruh elemen masyarakat. Demikian hal ini dinyatakan oleh Juru Bicara Komite Peralihan Aceh (KPA) Ibrahim Samsudin,
 
Ibrahim Samsudin menambahkan saat ini partai GAM sedang menunggu hasil verifikasi dari Departemen Hukum dan HAM untuk menentukan lolos atau tidaknya Partai GAM untuk mengikuti Pilkada. Partai GAM hingga saat ini telah menyerahkan segala persyaratan kepada Departemen Hukum dan HAM.
 
“Mungkin karena belum kita sosialisasikan kemana arah dan tujuan Partai GAM, tunggulah sebentar lagi, karena kita akan mensosialisasikan hal ini keseluruh pelosok Aceh. Karena hal yang seperti ini sekarang kita tidak usah terlalu membicarakan karena sudah diserahkan ke Departemen Hukum dan HAM, jadi biar mereka verfikasi dulu, terhadap ya atau tidaknya itu nanti”, ungkap Ibrahim kepada sejumlah wartawan Jumat (03/08).
 
Menanggapi adanya unjuk rasa masyarakat di Aceh Tenggara yang menolak hadirnya Partai Lokal di Aceh, khususnya Partai GAM,  Ibrahim Samsudin menilai hal tersebut tidak pantas dilakukan karena kehadiran Partai Lokal di Aceh merupakan  hasil dari  MOU yang melahirkan Partai Lokal di Aceh. Dirinya menambahkan berdirinya Partai Local di Aceh merupakan hal yang legal, dan hal tersebut tidak perlu di perdebatkan demi tegaknya demokrasi di Aceh.(Windy F)


posted by Nikoya 106 FM News Division Agustus 03, 2007 18:10 | permalink | News

KPA Mengutuk Keras Pelaku Pemboman Gedung DPRD Aceh Tenggara.


Komite Peralihan Aceh (KPA) mengutuk keras pelaku pemboman gedung DPRD Aceh Tenggara. Demikian hal ini dinyatakan oleh Ibrahim Samsudin, Juru Bicara KPA.
 
Ibrahim menambahkan hal tersebut seharusnya tidak perlu terjadi, dimana saat ini warga Aceh sedang menikmati kedamaian. Ddiungkapkannya pemboman tersebut merupakan sebuah provokasi yang ingin mengganggu suasana kedamaian di Aceh.
 
Ibrahim Samsudin menduga hal tersebut merupakan provokasi yang dilakukan oleh Calon Bupati Aceh Tenggara yang tidak terpilih pada pilkada lalu, sehingga menimbulkan provokasi di kalangan masyarakat.
 
“Sekarang Rakyat sedang menikmati kedamaian, dan lagipula di dalam Demokrasi kita sudah sepakat bila kalah dan menang itu merupakan hal yang biasa. Namun jangan dari pihak-pihak yang kalah ini membuat aksi yang anarkis, ini yang kita tidak bisa terima. apa yang kita lihat di Aceh Tenggara bahwa Mantan Bupati yang terpilih ini memprovokasi sehingga terjadi hal-hal yang tidak diingini. Kita juga menghimbau kepada masyarakat Aceh Tenggara bahwa Aceh Tenggara bukan hal Bupati Aceh Tenggara yang tidak terpilih, tapi hak dan milik rakyat”, jelas Ibrahim Jumat (03/08).
 
Ibrahim Samsudin meminta agar masyarakat Aceh Tenggara tidak terprovokasi atas terjadinya pemboman itu.
 
Ibrahim Samsudin juga mengharapkan kepada Calon Bupati Aceh Tenggara yang tidak terpilih pada pilkada tahun lalu, agar tidak memprovokasi masyarakat untuk melakukan hal-hal yang menganggu suasana perdamaian di Aceh, dan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menghormati demokrasi yang sedang berlangsung.(Windy F.)


posted by Nikoya 106 FM News Division Agustus 03, 2007 18:05 | permalink | News

Warga Korban Tsunami Desa Ujoeng Pancu Aceh Besar Enggan Pulang Ke Tempat Asalnya.


Warga Korban Tsunami Desa Ujoeng Pancu Aceh Besar yang masih menetap di Barak Siron Aceh Besar, enggan pulang ke tempat asalnya di Desa Lampange Ujong Pancu Aceh Besar. Padahal rumah mereka sudah di bangun kembali, namun puluhan Kepala Keluarga Desa itu masih tetap bertahan di barak selama barak itu belum di bongkar.
 
Ibu Halimah, salah seorang warga Desa Ujong Pancu saat di tanya tentang mengapa masih terus bertahan di Barak, dirinya sudah enggan pulang ke tempat asalnya karena jauh dari pusat Kota Banda Aceh, dan tidak adanya trasportasi.
 
”Kalau bisa sekalipun kami diberikan rumah ditempat semula lebih baik kami menetap disini, karena kami sudah mendapatkan pencaharian nafkah disini”, ungkap Halimah kepada Redaksi Nikoya Jumat (03/08).
 
Saat di tanya kalau barak yang di tempati nantinya akan di bongkar, dirinya menjawab  warga Ujong Pancu tetap tidak ingin pulang ke daerahnya. Dijelaskannya juga mereka tetap mau di tempatkan di wilayah Kota Besar Banda Aceh, sekalipun di pinggiran Kota.
 
”Rumahpun yang sudah dibangun belum bisa di tempati, tapi sekalipun rumah bantuan untuk kami sudah ada dan bisa ditempati, kami tetap tidak mau pindah”, kata Halimah.
 
Saat di tanya apakah sudah mendapat rumah bantuan, dia mengakui rumah bantuan itu belum sepenuhnya siap dikerjakan. Namun walaupun sudah siap, dirinya tetap akan bertahan di Banda Aceh bersama suami dan anak-anaknya, karena ingin mencari kerja di Banda Aceh,(Abu Sidik)


posted by Nikoya 106 FM News Division Agustus 03, 2007 18:00 | permalink | News

<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134   >>361 - 365 of 666

blog home


archive
NOPEMBER 2008
AGUSTUS 2008
JUNI 2008
MAI 2008
APRIL 2008
::full...


recent entries
:: Departemen Hukum Dan HAM Akan Menindak Lanjuti Laporan Narapidana.
Nopember 14, 2008
:: Terkait Rekaman Video Pungli Di Dinas Pendidikan GERAK Aceh Minta Kasus Tersebut Di Laporkan.
Nopember 14, 2008
:: Hut RI Yang (63) Tahun Di Banda Aceh Berlangsung Khitmad.
Agustus 17, 2008
:: KontraS Aceh Gelar Pekan Kampanye Anti Penghilangan Orang Secara Paksa.
Agustus 17, 2008
:: (BRA) Kombatan Gam Dan Korban Konflik Untuk Bersabar.
Agustus 15, 2008

%BLOG_RECENT_COMMENTS%




administrator