Mai, 2008 Ketua DPRD Aceh Mendukung Progam Pembukan Sawit Dan Coklat Di Aceh.
Ketua DPRD Aceh Saed Fuad Zakaria mendukung progam pembukan sawit dan coklat di beberapa daerah di Aceh.dan pemberian bantuan kepada mereka yang tidak mempunyai kemampuan ekonomi.
Sayed menambahkan ia akan memberi dukungan terhadap program tersebut karna komitmennya untuk mensejahterakan rakyat termasuk ke inprastruktur sentra-sentra ekonomi rakyat seperti pembangunan jalan ataupun irigasi untuk kebutuhan rakyat.
Sayed menambahkan mengenai lahan sawit dan coklat harus terdata mengenai luas lahannya dan tepat sasaran, Saed mengaku tahun ini sedang dalam pengadaan bibit sawit dan pembukaan lahan seluas 7000 hektar lebih, Saed menambahkan untuk tahun depan bisa dibuka lagi lahan sawit seluas itu dan bibit sawitnya akan disediakan tahun ini.
Saat di tanya, jumlah penerima lahan sawit untuk tahun ini Saed hanya mengatakan ribuan KK, namun yang jelas DPRD mendukung penuh program tersebut dengan segala upaya untuk mempercepat pembangunan ekonomi rakyat Aceh. (Abu Sidiq)
posted by Nikoya 106 FM News Division Mai 26, 2008 18:00 | permalink | News
Korban Tsunami Desa Rukoh.Kesulitan Air Bersih.
Puluhan kepala keluarga korban tsunami yang menempati barak hunian sementara di Desa Rukoh, Kecamatan Darussalam, Banda Aceh, mengalami kesulitan air bersih. Pasalnya, sumur bor yang biasanya di gunakan warga sekitar tak bisa dimanfaatkan lagi karena rusak.
Munir salah seorang penghuni barak mengatakan, sejak dua pekan terakhir puluhan kepala keluarga yang tinggal di barak tersebut tidak bisa lagi menggunakan sumur bor tersebut.
Munir mengatakan walaupun saat ini mendapat supplai air. namun kebutuhan tetap tidak mencukupi untuk keperluan sehari-hari, karena penyuplaian air bersih saat ini sering terhenti.
Ia berharap ada pihak yang memperbaiki sumur bor yang ada.karena di tempat tersebut tidak ada sumur warga yang bisa di pergunakan.sebab kawasan itu tidak ada sumber air tawar.(Abu Sidiq)
posted by Nikoya 106 FM News Division Mai 20, 2008 18:25 | permalink | News
Kalangan Masyarakat Miskin Di Banda Aceh Resah Kenaikan BBM.
Kenaiakn BBM yang di rencanakan pemerintah awal bulan Juni ini membuat kalangan masyarakat kelas bawah di Banda Aceh resah terutama mereka yang berprofesi Sebagai tukang becak, demikian dikatakan Munir salah seorang tukang becak di Banda Aceh. Ia mengatakan Walaupun harga minyak belum dinaikan pemerintah, namun dia mengaku sejumlah harga kebutuhan pokok di Banda Aceh sudah mengalami kenaikan harga.
Dia mengakui keadaan seperti ini sangat meresahkan masyarakat yang berpenghasilan kecil, selaku masyarakat awam dia mengaku seharusnya pemerintah jangan menaikan harga BBM, dia menambahkan mestinya pemerintah harus mencari solusi lain untuk mengatasi kenaikan harga BBM ini.
Hal senada juga di katakan M.Nasir salah seorang supir labi-labi di Banda Aceh dia mengaku rencana pemerintah menaikan harga BBM adalah tidak tepat.
Dia mengatakan selama hampir tiga pekan ini demo masyarakat disemua daerah di Indonesia menolak kenaikan BBM. M.Nasir mengaku seharusnya pemerintah menghargai tuntutan warga yang menolak kenaikan BBM.(Abu Sidiq)
posted by Nikoya 106 FM News Division Mai 20, 2008 18:15 | permalink | News
KontraS Aceh Gelar Pertemuan Keluarga Korban Orang Hilang Se-Aceh.
Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Aceh melaksanakan kegiatan Pertemuan Keluarga Korban Orang Hilang Se-Aceh. Pertemuan tersebut diadakan di Wisma Bintara Pineung, Banda Aceh pada tanggal 19-20 Mei 2008 yang diikuti oleh 30 peserta dari keluarga korban orang hilang di 10 kabupaten komunitas dampingan KontraS Aceh.
“Keluarga korban sampai saat ini masih mempertanyakan keberadaan anggota keluarganya yang masih hilang. Pertemuan ini diharapkan menjadi salah satu upaya bersama untuk mencari kebenaran atas penghilangan orang yang pernah terjadi di Aceh,” ujar Feri Kusuma, staf divisi monitoring dan investigasi KontraS Aceh yang juga pelaksana kegiatan.
Kegiatan ini difasilitasi oleh KontraS Aceh dengan fasilitator pertemuan Feri Kusuma (staf divisi monitoring dan investigasi KontraS Aceh) dan Hendra Fadli (Kepala Bidang Operasional KontraS Aceh). Pertemuan ini mendiskusikan tentang upaya-upaya yang telah dan akan dilakukan keluarga korban dalam mencari anggota keluarganya yang masih hilang dan tidak tertutup kemungkinan untuk menempuh jalur hukum untuk mencari kebenaran kasus tersebut.
“Pertemuan ini nantinya juga akan menghasilkan satu rumusan strategi bersama dalam mengadvokasi kasus-kasus penghilangan paksa di Aceh, sehingga nantinya akan ada pertemuan yang lebih besar untuk mendesak tanggung jawab negara atas kasus-kasus penghilangan paksa,” kata Feri.
Suryani, salah seorang peserta pertemuan dari Kabupaten Aceh Jaya mengatakan ayahnya, Ilyas (47) ditangkap pada tahun 2004 oleh aparat keamanan dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya. Suryani mempertanyakan dimana keberadaan ayahnya dan dimana tanggung jawab pemerintah. ”Setelah Ayah pergi, saya harus menanggung biaya hidup dan pendidikan adik saya yang saat ini masih duduk di kelas 2 SMA”, kata Suryani.
Penghilangan orang secara paksa merupakan praktek politik yang telah terjadi di Aceh sepanjang berlangsungnya operasi militer. Penghilangan paksa merupakan salah satu dari sekian banyak bentuk pelanggaran HAM yang terjadi di Aceh pada masa itu. KontraS Aceh mencatat terdapat sekitar 700 orang yang sampai saat ini masih hilang dan belum diketahui kondisi dan keberadaannya. “Semua bentuk penghilangan paksa tersebut belum juga memperoleh pertanggungjawaban Negara yang adil”, tegas Feri. (Abu Sidiq)
posted by Nikoya 106 FM News Division Mai 20, 2008 18:10 | permalink | News
Mengelola Transisi dan Sumber Daya: Kunci Keberlanjutan Rekonstruksi dan Pembangunan Aceh.
Chief Financial Officer Kelompok Bank Dunia menyoroti dukungan Multi Donor Fund untuk Pemerintah Aceh dalam menghadapi proses transisi
Banda Aceh, 20 Mei 2008: Vincenzo La Via, Chief Financial Officer Kelompok Bank Dunia, hari ini menyatakan bahwa perdamaian merupakan salah satu faktor kunci dalam suksesnya rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-tsunami. Namun, kini saat yang tepat untuk memfokuskan pada pengelolaan transisi program-program rekonstruksi Pemerintah di bawah naungan BRR kepada pemerintahan daerah dan badan-badan terkait. La Via dalam kunjungan dua harinya ke Aceh berkesempatan mengunjungi daerah-daerah yang terkena dampak konflik dan tsunami.
“Saya ingin menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah Indonesia dan masyarakat Aceh dalam menumbuhkan dan memelihara perdamaian yang sangat penting untuk pembangunan Aceh, “kata La Via setelah bertemu dengan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf. “Dalam waktu dekat, Pemerintahan Provinsi Aceh akan menghadapi tantangan dalam mengelola investasi-investasi rekonstruksi yang dibuat oleh Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi dan memastikan keberlanjutannya. Dengan peningkatan sumber-sumber pembiayaan yang dimiliki Provinsi Aceh memberi peluang pembangunan jangka panjang melalui peningkatan pelayanan-pelayanan publik dan daya saing – hal-hal di mana Bank Dunia dan IFC dapat memberikan dukungan kepada Pemerintah Aceh dalam usahanya untuk menggunakan sumber-sumber dayanya secara efektif.
Multi Donor Fund menyediakan dukungan-dukungan, baik kepada pihak yang akan selesai bertugas dan pihak penerima untuk memastikan kelancaran sebuah transisi di Aceh dalam pengelolaan aset-aset publik infrastruktur, dan upaya pembangunan yang lebih menyeluruh. Joachim von Ambsberg, Country Director Bank Dunia untuk Indonesia, mengatakan, “Multi Donor Fund mendukung BRR melalui bantuan tekhnis untuk transisi dan di saat yang sama mendukung program Transformasi Pemerintahan Aceh untuk mempersiapkan Pemerintah Provinsi Aceh dalam menerima pengalihan aset-aset.
International Finance Corporation (IFC), bagian sektor swasta Kelompok Bank Dunia, juga menyediakan dukungan yang penting dalam transisi dengan memfasilitasi dialog antara pemerintah dan sektor swasta dan menarik minat investor melalui pendirian sebuah kantor khusus yang mengurusi investasi. “Setelah dua tahun, kegiatan promosi yang memfokuskan pada keanekaragaman sumber daya alam Aceh telah berhasil menarik perhatian 40 investor dari dalam negeri dan luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Kanada, dan Australia, ‘kata Adam Sack, Country Manager IFC untuk Indonesia. “IFC telah memberikan dukungan dalam membangun dialog yang lebih kuat antara Pemerintah Aceh dan sektor swasta sehingga dapat membantu Aceh memperlihatkan potensi ekonominya secara utuh.
Setelah peristiwa tsunami, Bank Dunia mengelola satu dari beberapa kumpulan pendanaan di bawah naungan Multi Donor Fund. Dengan dana-dana yang bersumber dari 15 donor bilateral dan multilateral, Multi Donor Fund telah mengumpulkan sekitar US$ 673 juta komitmen dan saat ini mengelola 17 program di Aceh dan Nias dalam bidang: pemulihan masyarakat, rekonstruksi infrastruktur skala besar, pembangunan kembali tata kelola pemerintahan, dan lingkungan hidup yang berkelanjutan. Beberapa program sedang dalam tahap persiapan, salah satunya adalah untuk program pemulihan mata pencaharian dan dukungan transisi di Aceh dan Kepulauan Nias.
Periode program-program Pemerintah Pusat untuk rekonstruksi dan rehabilitasi di Aceh akan berakhir dangan selesainya mandat BRR pada bulan April 2009. Sementara Multi Donor Fund akan melanjutkan usaha pemulihan Aceh dan Nias sampai dengan tahun 2012.(Tim Nikoya Redaksi info Worldbank)
posted by Nikoya 106 FM News Division Mai 20, 2008 18:00 | permalink | News
|